INSPIRASI SHALIHAH - "Kangen ka ayah eui. Nggak ada yang dikangenin di hati selain Ayah."
Kangen pada ayah nih. Nggak ada yang dikanegin di hati selain Ayah. Inilah kira-kira terjemah dari kutipan status saudari saya di dinding facebooknya, semalam. Membaca status saudari saya itu, spontan saya mengomentarinya; Al-Fatihah! Sebagai ikhtiar empati dan mendo'akan.
Beberapa bulan lalu. Tak ada firasat buruk sebelumnya. Aktivitas masyarakat, termasuk aktivitas Bibi, paman, dan keluarganya berjalan seperti biasa. Paman, berangkat bekerja seperti biasa di daerah Kuningan. Aktivitas itu ia jalani pulang-pergi dengan menggunakan sepeda motor. Alasannya sederhana, tetapi betapa istimewa, agar ia bisa selalu bertemu keluarganya.
Pagi itu. Pagi-pagi sekali, paman berpamitan pada bibi, sang istri. Setelah sebelumnya mengantar sekolah putri keduanya. Juga setelah mencium cucu pertama kesayangannya. Paman mengendarai motor berangkat bekerja. Tetapi entah ada angin apa, beberapa jam setelah berangkat melacu, masyarakat tampak gaduh, tentang kabar seorang laki-laki yang mengalami kecelakaan hebat.
Kabar itu sampai ke bibi, tetapi ia tidak begitu hirau. Meskipun rasa memang pikiran ke arah suaminya tak bisa dibendung. Ia mulai cemas. Tubuhnya bergemetar. Akhirnya, salah seorang perangkat desa mengetuk pintu rumahnya. Memberi kabar kebenaran tentang seorang laki-laki yang mengalami kecelakaan. Ternyata, memang paman, suami tercintanya. Motor yang dikendarainya ditabrak sebuah mobil pribadi. Motor dan pengendaranya terpental jauh. Darah bercecer di mana-mana.
Para warga yang menyaksikan, langsung melarikannya ke rumah sakit terdekat. Tetapi sayang, nyawanya tidak tertolong. Ia pun meninggal. Saat bibi tiba di rumah sakit, suaminya sudah dibungkus kain kapan. Mungkin ia hanya sempat melihat wajahnya saja.
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Saya termasuk orang yang sangat kehilangan. Beliau, adalah paman terbaik saya. Beliau-lah partner saya, tiap kali saya di rumah. Beliau yang selalu mengajak saya mengaji ke rumah-rumah warga memenuhi undangan. Paman tahu betul, karena keponakannya adalah santri. Ia pun belajar mengaji, marhaba, dan segala hal yang berkaitan dengan masalah agama. Salut!
Kini, bibi seorang diri. Meskipun masih ditemani kedua putri dan seorang cucunya. Air mata itu, entah kenapa mudah berlinang. Ia berusaha tegar. Saya juga selalu ingin terus menghibur. Tentu, selain juga do'a-do'a. Ekspresi yang ditunjukkan putrinya di atas, betapa ia kangen ingin bercengkrama lagi bersama sang Ayah. Untuk hal itu, kepada teman-teman yang orang tuanya utuh, kita wajib bersyukur.
Begitulah rasa terdalam seorang istri. Maka, saya ingin memohon kepada para suami, untuk tidak menyia-nyiakan keberadaan para istri. Para istri yang begitu dalam mencintai. Selalu patuh, selalu ingin membahagiakan suaminya. Para istri rela bekerja mengurus rumah tangga, bahkan juga ikut membantu melengkapi kebutuhan ekonomi keluarga.
Bi, kau adalah bibi yang tegar. Betapa Allah amat sayang padamu. Di sana, paman sedang tersenyum bahagia. Mendapati istri dan putra-putrinya yang saleh-salehah, istiqomah mendo'akan.

0 Response to "Single Parent: Bibiku yang Tegar"
Post a Comment