Antara Kodrat, Perempuan, dan Syukur

Kali ini saya akan membahas apa itu kaitannya antara kodrat, perempuan, dan syukur. Saya akan mencoba membahas ini dengan sedetail dan sesederhana mungkin. Saya terlampau 'mengelus dada' karena terlalu sering terjadi latah dan salah kaprah dalam memahami apa itu kodrat? Saya ingin menegaskan di awal, kodrat adalah anugerah Allah yang berkenaan dengan hal-hal yang bersifat fisik dan biologis. Sudah paham ya, apa itu kodrat.
 
Saya juga ingin menegaskan, kalau kodrat perempuan itu cuma ada 5 (lima); menstruasi, mengandung, melahirkan, menyusui, dan menopause. Selain kelima hal itu, bukan kodrat perempuan. Begitu ya. Jadi kalau ada yang bilang, kodrat perempuan itu di rumah, mengurus rumah tangga, mendidik anak, dlsj, wah ini nih yang namanya latah dan salah kaprah. Bukan, bukan, menetap di rumah, mengurus rumah tangga, mendidik anak, dlsj bukan kodrat perempuan.
 
Coba pahami ini dan renungkan kembali, perlahan-lahan. Nah, makanya kita harus bisa membedakan; mana itu kodrat dan mana itu adat. Kalau kodrat sudah paham ya. Sekarang tinggal adat, adat itu hal-hal yang bersifat (konstruksi) sosial. Segala hal yang terjadi karena dibentuk oleh lingkungan kebiasaan dan budaya sosial tempat tertentu.
 
Saya kira, catatan ini saya tulis untuk semua orang, untuk laki-laki dan perempuan; suami dan istri. Saya juga sering kali miris kalau ada istilah begini "Istri harus tunduk pada suami; kapan dan di mana pun". Entahlah, ini maksudnya apa. Saya juga merasa aneh yang keterlaluan. Karena Islam yang saya pelajari sampai hari ini tidak pernah memposisikan suami seolah-olah dialah manusia tanpa cacat dan kekurangan. Jadi, bagi saya, ada kalanya memang istri harus tunduk (taat) pada suami, tetapi di saat yang sama suami juga tidak ada salahnya tunduk pada istri. Asalkan prinsipnya baik.
 
Teman-teman aneh nggak saat saya bilang "Suami harus tunduk pada istri"? Aneh ya. Maksud saya begini, di mata Allah suami dan istri itu sama-sama mulia. Tidak selamanya suami lebih mulia daripada istri. Nggak, nggak begitu. Karena prinsip yang diajarkan Islam itu adalah "kesalingan" dan "keseimbangan". Suami dan istri sadar bahwa keduanya saling membutuhkan. Suami dan istri sadar bahwa keduanya harus membagi peran secara seimbang. Jadi, ada kalanya istri itu khilaf dan harus diingatkan, begitu juga suami kadang ada khilaf dan mesti diingatkan.
 
Dalam kehidupan sehari-hari, makanya para istri sering mendapatkan perlakuan yang sadis. Mereka, para istri layaknya pembantu dan dayang-dayang para raja, alias suaminya para istri. Bahkan saking nurut dan takutnya, ada banyak istri yang sering dibentak, sering dimarahi, sering diperlakukan secara keras, dipukul, ditendang, dlsj, tapi para istri hanya bisa diam saja, tetap nurut, sama sekali tidak bisa melawan. Astgahfirullah. Suami model apa ini. Na'uzubillah.
 
Hei, harus dipahami juga, memang ada istri yang memilih di rumah saja dan ada istri yang juga nyambi sambil berkarir. Istri bekerja di rumah saja sebagai ibu rumah tangga itu bukan berarti hina. Istri yang menjadi ibu rumah tangga saja juga bukan berarti benci sama istri yang berkarir. Pilihan mau menjadi IRT saja atau IRT sambil berkarir itu sama-sama harus dihormati. Asalkan amanah, tanggungjawab, komunikasi dengan suami tetap berjalan, dlsj, ya nggak ada yang salah. Kedua pilihan itu bagus semua. Tentang istri yang berkarir itu bagian dari salah satu bentuk rasa syukur atas potensi dan kemampuan yang telah dianugerahkan Allah. Bukan buat nyaingi suami. Istri yang bekerja pasti dapat duitlah, tapi duitnya bukan buat foya-foya, bukann buat sendiri, tapi tetep buat keluarga, buat suami, buat anak, dll, buat bersama. Gitu ya. Awas lho ya jangan latah dan salah kaprah lagi!

0 Response to "Antara Kodrat, Perempuan, dan Syukur"

Post a Comment