Kiamat Kehidupan untuk Perempuan

INSPIRASI SHALIHAH - Paling sedih rasanya, jika ada perempuan/istri yang punya potensi hebat tapi nggak bisa mengeksplor potensinya itu dengan maksimal, karena satu penyebab. Begitu, serasa kehidupan sedang mengalami kiamat secara perlahan, tapi pasti. Bukan cuma menyayat hati, tapi serasa mati. Heuheu.
 
Tahu siapa penyebab utamanya? Iya bener, laki-laki atau suami. Lho kok bisa? Saya coba mau identifikasi, laki-laki yang termasuk penyebab utama masalah ini. Yakni laki-laki yang selalu merasa paling hebat ketimbang perempuan. Laki-laki yang selalu menganggap perempuan itu rendah. Laki-laki yang selalu menganggap bahwa perempuan itu kerjaannya cukup di rumah. Laki-laki yang selalu memproteksi perempuan, ini dilarang itu dilarang. Dan lain sejenisnya.
 
Nah, sudah tahu kan? Jangan-jangan kalian (laki-laki) masih banyak yang tergolong laki-laki model demikian. Saya menempatkan laki-laki model begini ini sebagai laki-laki yang paling menyeramkan dan membahayakan. Beneran kiamat, kalau di kehidupan ini masih terpelihara model laki-laki seperti demikian. Makanya saya ingin kita sama-sama belajar, sama-sama berbenah, sama-sama rendah hati.
 
Tapi perempuan tetep jangan takut sama laki-laki. Yuk kita sama-sama berikhtiar, supaya terus semakin banyak laki-laki yang tercerahkan. Kita pakai ikhtiar bumi dan ikhtiar langit. Yang paling penting memang jangan pernah berhenti mau belajar. Pikiran dan hati nurani kita harus senantiasa terbuka dan jernih. Pikiran dan hati nurani yang selalu siap akan datangnya masukan, kritikan, dan perbaikan. Karena itu, kita jangan keras kepala.
 
Itu pun kalau kita mau supaya tidak terjadi kiamat bagi perempuan. Gimana nggak kiamat coba? Contohnya begini, selama kuliah Hana itu mahasiswi yang cerdas dan berprestasi. Tapi setelah menikah, produktivitas dan kreativitasnya ciut dan melemah. Maksud saya bukan saya nyalahin nikahnya. Tapi di sinilah kita mesti teliti apa sebabnya. Saya tetap yakin, jika penyebabnya adalah karena keterkekangan. Karena ulah suaminya yang nyebelin. Harusnya nih, atau paling nggak kan begini, seorang perempuan yang udah jadi istri kemudian punya potensi hebat di dunia akademisnya saat S1, ya dukunglah supaya istrinya S2, terus sampai S3. Bahkan indahnya, bisa sama-sama kuliah S2 dan S3 sekelas. Subhanallah, indah banget kan ya. Saya menemukan kejadian semacam ini.
 
Suami dan istri mesti saling melayani dan memfasilitasi. Tapi nyatanya sampai hari ini, cuma istri aja yang selalu melayani dan memfasilitasi. Bahkan istri rela menderita asalkan suaminya bahagia. Astaghfirulllah. Jangan gitulah. Nggak asyik, Allah nggak suka. Jadi sekali lagi, suami dan istri harus saling melayani dan memfasilitasi. Suami penginnya apa dilayani dan difasilitasi istri. Istri penginnya apa dilayani dan difasilitasi suami. Lagian kan buat kebahagiaan berdua. Kalau suami dan istri bahagia, itulah baru namanya kebahagiaan sejati. Suami jangan enak sendiri.
 
Kalau alur berpikir di atas masih saja nggak masuk atau malah nolak, wah ya susah. Kiamat bagi perempuan pasti terjadi. Suami yang menyerupa harimau yang siap membatasi dan menerkam ruang gerak istri. Jadi tolong, untuk para suami, bicaralah dengan penuh romantis, tanya sekalian istrimu, minta maaflah atas keegoisanmu selama ini. Berikan jaminan bahwa kamu (suami) akan senantiasa mendukung segala hal yang membuatnya bahagia. Selagi baik ya memang harus didukung.
 
Insya Allah itulah jalinan rumah tangga dambaan Islam. Jalinan rumah tangga yang dijalankan Nabi. Awas, jangan kebanyakan alasan, mau nolak gagasan-gagasan ini. Yang paling kentara itu alasan ini; bahwa teori itu susah kalau dilaksanakan. Teori itu mudah aplikasi itu susah. Hadeuuuh, dicoba aja belum, berasalan mulu!

0 Response to "Kiamat Kehidupan untuk Perempuan "

Post a Comment