Merintis Bahtera Rumah Tangga

INSPIRASI SHALIHAH - Pasca-lebaran Idul Fitri, saudara, teman, atau tetangga banyak yang memanfaatkannya untuk merayakan kebahagiaan dengan menggelar tasyakkur walimah nikah. Di Indonesia, lazim dengan istilah 'kondangan'; memenuhi undangan shahibul hajat dengan turut menyematkan do'a restu.
 
Seperti saya saksikan sendiri dari sorot mata dan bibirnya tercermin cahaya bahagia. Setelah sekian lama berikhtiar menjemput jodoh di luas lautan kehidupan; akhirnya jodoh bertemu juga. Ada keluh, khawatir, sedih, pahit, dan rasa lain sejenisnya yang pasti dirasakan oleh laki-laki maupun perempuan saat hendak menjemput jodoh. Nah, setelah jodoh bertemu, ada semacam rasa lega, kelegaan itu disyukuri dengan menggelar pesta pernikahan dengan mengundang sanak saudara dan teman.
Merintis Bahtera Rumah Tangga
 
Kedua mempelai dengan baju pengantin yang indah, satu demi satu menyalami dan mengucapkan terimakasih pada masing-masing tamu yang berdatangan. Aduhai, seperti kata lagu qasidah; "Duhai senangnya pengantin baru, duduk bersanding bersenda gurau, bagaikan raja dan permaisuri, tersenyum simpul bagaikan bidadari". Hehe.
 
Eh, tetapi ada yang bilang pengantin itu bahagia cuma semalam, karena ke sananya ribut. Hehe. Dengan ocehan orang seperti ini tak usah risau. Ocehan ini harus jadi pelecut buat kedua mempelai supaya bisa mempertahankan kebahagiaan dalam bahtera rumah tangga sepanjang hayat.
 
Saya sendiri sering mendapat laporan, baik secara langsung, maupun kabar dari teman, termasuk juga via sosial media ini. Yang sering kali terjadi adalah adaptasi, waktu untuk menyesuaikan diri di antara masing-masing pasangan, apalagi jika setelah menikah masih menetap bersama orang tua. Canggung, serba salah, kaku, dan perasaan/sikap sejenis mudah menggejala, menghantui pengantin baru.
 
Memang tidak mudah menyelaraskan kepribadian dua insan yang berbeda. Saran saya, yang segera harus diupayakan adalah sikap saling jujur dan terbuka. Sebetulnya ikhtiar ini bisa dilakukan saat proses ta'aruf dan meminang. Maksud sikap jujur dan terbuka yang saya maksud adalah baik perempuan maupun laki-laki membuka kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tidak ada lagi istilah 'jaim'; baik-buruk harus diungkapkan secara terbuka.
 
Dari sikap saling jujur dan terbuka ini akan mengantarkan pada sikap saling menerima dan menghargai; kelebihan dan kekurangan. Sehingga jika suatu saat timbul masalah, karena penyebab apapun, masing-masing di antara perempuan dan laki-laki tidak akan kaget, malah akan saling memaklumi. Nah, dari sikap saling memaklumi itu, akan timbul sikap saling melengkapi.
 
Berikutnya, jangan lupa bercanda. Sense of humor. Bercanda memacu kreativitas agar bahtera rumah tangga tidak garing. Selalu ada hal yang bisa membuat masing-masing pasangan untuk tertawa. Dari tertawa inilah, akan membuat langgeng dan awet muda.
 
Bahwa masalah akan menghinggapi bahtera rumah tangga siapa saja adalah niscaya. Dengan masalah, bahtera rumah tangga akan semakin dewasa. Kuncinya tadi, pegang teguh sikap saling jujur-terbuka dan humor. Terakhir, mintalah bantuan Allah Swt.
*Kapan-kapan disambung lagi. Hehe.

0 Response to "Merintis Bahtera Rumah Tangga"

Post a Comment